Mabuk Kepayang Oleh Vinyl dan Kopi Di Pasar Santa

Sejak September 2014, Pasar Santa rupanya telah berubah menjadi tempat tongkrongan baru para hipster alias anak gaul Selatan. Namanya kini berubah menjadi Pasar Modern Santa. Walau agak masuk ke dalam, dari segi lokasi pasar yang dikelola oleh PD Pasar Jaya ini cukup mudah dicari. Jika naik kendaraan umum, pilih saja bus arah Blok M yang melintas Jalan Wolter Mongonsidi dan minta diturunkan di Pasar Santa. Jika menggunakan taxi, minta langsung diantarkan ke Pasar Santa yang terletak di Jalan Cipaku I.

10678689_10204901443039834_4441121926259988566_n

Dari berbagai info yang didapat, banyak yang merekomendasikan sebaiknya mengunjungi pasar di sore atau malam hari. Kenapa? Ternyata, ya sesuai dengan namanya pasar, tempat ini sama sekali tidak ada pendingin ruangannya. Jadi, jika datang sore atau malam hari, suasana pun akan terasa lebih teduh. Jika tetap ingin datang siang hari, ya, jangan lupalah untuk membawa kipas. Juga jangan heran jika tempat tongkrongan yang lagi ngehip itu tidak langsung ditemukan ketika sudah tiba di sana karena lokasi tongkrongan terletak di lantai atas pasar (lantai satu). Di sisi sebelah kanan lantai satu, tepatnya.

Jejeran kios-kios di sini belum semuanya dibuka tetapi jika perlahan-lahan, satu per satu dijelajahi, banyak kios berukuran sekitar 2×3 meter ini yang menawarkan konsep berjualan dan juga barang dagangan yang menarik.

Gajama.com adalah kios pertama yang menarik perhatian. Posisinya yang berada dekat tangga pasar sebelah kiri (baca: agak menjauh dari pusat keramaian yang terletak di sebelah kanan) membuat kios yang paling menarik didatangi. Apalagi, barang dagangannya pun terbilang agak lain daripada yang lain jika dibanding dengan kios di sekitarnya.

Kios nomer 38 ini menjual sepatu, boots, tas dan jaket kulit dan suede buatan sendiri. Barang yang dipajang mungkin tidak terlalu banyak tetapi jika model atau ukuran sepatu yang dipajang di sini tidak sesuai selera hati, jangan takut karena pemiliknya Panji Yudo bersama tim siap menerima pemesanan. Menampilkan konsep minimalis dan cat dinding berwarna putih, lantai kayu dan lampu yang tidak terlalu terang, toko ini memang terlihat berkelas dan ini menjadi satu pemandangan yang jelas berbeda jika kita mengunjungi sebuah “pasar.”

Denyut pasar berkonsep kreatif ini semakin terasa ketika kaki melangkahkan ke arah kanan. Sederetan kios kopi sangatlah menggoda, terutama dengan aroma khas kopi seperti ketika melintas kios Gayobies, Bear & Co (pemiliknya “bule,” Josh Estey, Orkide & Coffee Adorers, dan tentu saja pemicu denyut nadi kehidupan pasar Santa, A Bunch of Caffeine Dealers School of Coffee atau populer dengan sebutan ABCD Coffee.

Adalah duo Ve Handojo dan Hendri Kurniawan yang pertama menyewa kios di lantai atas pasar Santa ini. Awalnya, mereka membuka ABCD Coffee sebagai tempat pelatihan barista dan tempat penyaluran berbagi buat pecinta kopi. Sejalan denga rekomendasi dari mulut ke mulut, keseruan postingan, hashtag #ngopidipasar dan komentar tempat ini di jejaring sosial, yang lain pun berminat membuka kopi di tempat yang sama. Bagi penikmat kopi khas dan berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau, pasar Santa bisa dibilang adalah surganya. Dan, bukan kebetulan jika Indonesia merupakan salah satu negara produksi kopi terbesar di dunia.

Di pasar Santa, pilihan pengisi perut atau teman kopi juga cukup banyak. Lagi-lagi, kios penjaja makanan ini juga tidak kalah keren dengan toko roti di mal. Jika suka makanan barat, bisa mencoba makanan Mexico seperti nachos, taco atau burito di Papricano Mexican Cantina. Bagi yang suka jajanan pasar khas Indonesia, bisa membeli camilan di Ketan Pasar atau Sepotong Kue sebagai teman ngopi dari kios kopi berkualitas yang juga sederatan. Sedangkan buat yang lapar berat, menyambangi Mie Chino yang menjual berbagai macam mie.

Sebagai penikmat musik, satu hal yang membuat saya mulas saat mengunjungi pasar Santa adalah jejeran kios yang menjual berbagai cakram musik seperti vinyl dan CD bekas. Bahkan, kaset dalam kondisi yang masih bagus!

Di antara satu toko vinyl atau vintage store, koleksi musik yang ditawarkan sangatlah variasi. Salah satu toko vinyl dengan koleksi yang sangat impressif adalah Laidback Blues Records. Desain depan kios ini sangat ramai dan menarik. Pilihan tulisan nama toko di bagian atas dan bendera warna-warni yang digantungkan sepanjang depan toko memberi kesan vintage dan suasana di sebuah karnaval. Begitu masuk, tidak bisa dipungkiri badan langsung terasa sejuk karena toko ini termasuk segelintir toko di pasar yang menggunakan pendingin ruangan.

Koleksi impresif yang diperjualbelikan menampilkan koleksi dari berbagai jenis musik mulai dari rock, progresif rock, soul, pop rock, grunge hingga koleksi dari negeri sendiri seperti koleksi dari (alm) Benyamin S. Tidak terbayangkan berapa lama dan sampai kemana saja Samson, sang pemilik toko memburu vinyl-vinyl ini. Harga vinyl ini sangatlah bervariasi mulai dari yang di bawah seratus ribu bahkan hingga jutaan.

Berbagai jenis musik dalam format vinyl tidak hanya ditemukan di Laidback Blues Record. Perut kembali mules ketika saya menghampiri dua toko vinyl yang mengarah berseberangan. Di Sub Store (Desain logo ini sepintas mengingatkan label musik indie di Seattle, Sub Pop), misalnya.Vinyl milik Green Day hingga The Beach Boys bisa ditemui di sini.

Bagi yang tidak punya vinyl, ada kios lain yang menjual CD bekas atau bahkan kaset hingga kaos asli grup atau konser grup. Mampirlah ke kios Option Flea Market untuk mendapatkan koleksi CD bekas yang cukup banyak. Setidaknya, koleksinya tidak kalah variasi dengan koleksi vinyl dari Laidback Blues Record. Selain CD, Option ini juga menjual boneka figur karton Jepang dan Barat.

Melihat koleksi ini, tidak hanya perut saja yang mulas. Mendadak kelima panca indra seperti mengalami hal sureal, jika tidak boleh dibilang aneh. Telinga, mata, penciuman, bahkan logika mengalami pengalaman unik, di luar kebiasaan. Ke pasar, tidak untuk membeli beras atau sayur. Di pasar Santa, pengunjungnya masuk toko, membe
li sepatu boots kulit, belanja koleksi vinyl jutaan rupiah, bahkan menyeruput kopi berkualitas dan menyantap makanan barat yang cita rasanya tak kalah dengan yang di mal-mal.

Advertisements