Parasyte Part 1 Buka Mata Penikmat Film Buta Manga

Sejalan dengan umur, tanpa disadari, ada perubahan selera dan juga pendekatan dalam penentuan menonton film di bioskop. Jika dulu paling malas menonton film serius, sekarang film dengan iming-iming nominasi berbagai penghargaan sangatlah penting. Dulu paling malas menonton film bukan berbahasa Inggris, sekarang film Mandarin, Jerman, Korea atau Jepang dilahap juga.

Jika dulu harus cari tahu dulu tentang film, entah itu dari segi alur cerita, pemeran atau aspek produksi lainnya, sekarang unsur impulsif. Cek lewat situs teater, ada yang kira-kira menarik, cari lokasi paling gampang dijangkau plus harga tiket murah, langsung dijabani.

Kredit foto: Encore Films FB

Kredit foto: Encore Films FB

Semua fakta di atas itulah yang dialami saat menonton “Parasyte Part 1,” film Jepang yang diputar jaringan bioskop Blitz Megaplex. Sedikit sekali info tentang film ini, kecuali cerita diangkat dari manga dan pemerannya, Shota Sometani, aktor baru Jepang yang berakting memukau dalam “Himizu.” Tapi, sebagai penonton yang buta manga alias kosong sama sekali tentang versi manga atau anime film ini, alur cerita film akan seperti apa jelas kosong juga. Hanya mungkin poster film ini sudah cukup informasi. Ada parasite di tangan sang pemeran utama.

Seperti karya seni lainnya, ya kalau memang bagus, karya itu pun akan terapresiasi dengan bagus oleh penikmatnya. Karya tersebut akan meninggalkan kesan mendalam dan tentunya menghibur hati. Kalau jelek, ya, marilah kita mencela. Beruntung, film berdurasi 109 menit masuk dalam kategori yang pertama. Menghibur dan berkesan.

Diceritakan mahluk asing berbentuk parasite jatuh dari langit dan mengambil alih tubuh manusia lewat kuping atau telinga manusia. Ketika mencoba masuk ke dalam tubuh Shinichi Izumi, yang diperankan Shota Sometani, murid SMU di Jepang, parasite gagal. Hanya berhasil menguasai tangan kanan Shinichi. Parasite lainnya yang berhasil mengambil alih tubuh manusia kemudian melakukan banyak pembunuhan brutal, termasuk ibu Shinichi.

Karena tahu apa yang sebenarnya terjadi, Shinichi bersama dengan parasite di tangannya yang diberi nama Migi, berusaha menghentikan aksi brutal parasite ini. Seperti yang diindikasikan judul, usaha akhir Shinichi untuk menghentikan Parasite yang berusaha mendominasi dunia manusia belum ketahuan. Penonton harus bersabar menunggu bagian kedua yang rencananya beredar tahun ini.

Namun, yang pasti film Parasyte cukup menghibur. Perpaduan efek untuk karakter Migi yang ada di tangan Shinichi dengan akting Shota sebagai anak SMU yang biasa saja tidak terlihat janggal dalam setiap adegan.

Walau diangkat dari komik atau manga, ide cerita film ini sangat serius. Berangkat dari topik yang populer tentang pemanasan global dan kepadatan penduduk dunia, konflik cerita bergulir dari situ. Mengurangi setengah masalah dunia dengan pembunuhan masal warga dunia melalui serangan parasite. Sedikit gila idenya memang, tapi itulah yang dinamakan nyali sebuah film. Harus ada ide gila, kalau tidak boleh disebut kreatif, untuk bisa menarik ditonton penonton, terutama penonton awam manga atau anime seperti saya.

Advertisements